Apa yang Anda cari disini.?

Laman

Tampilkan postingan dengan label Mikrobiologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mikrobiologi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 Desember 2015

ANALISIS PARAMETER OPTIMAL DALAM PRODUKSI BIOETANOL JERAMI PADI DENGAN SISTEM BATCH BIOREACTOR

Berikut adalah sedikit tulisan saya sewaktu Mahasiswa dulu dalam aplikasi Bioproses untuk program yang mendukung masa depan Indonesia. Kala itu adalah tugas dan harapan yang ingin didapat dari Mata Kuliah Teknik Pengukuran dan Pengendalian Bioproses.

Suhu penting kaitannya dalam perkembangan dan aktivitas dari mikroba dalam bioreaktor, sehingga perlu kontrol suhu optimal.

Konsentrasi Karbohidrat penting untuk parameter input pada reaksi agar didapat bioetanol  (output) yang optimal. Karbohidrat yang dipakai sebagai substrat didapat dari pemecahan selulosa pada jerami padi, yang selanjutnya akan difermentasi dengan bantuan enzim. Biomassa berselulosa terbentuk dari tiga komponen utama yakni selulosa yang terkandung dalam dinding sel tumbuhan dan mendominasi hingga 50% berat kering tumbuhan. Jerami padi diketahui memiliki kandungan selulosa yang tinggi, mencapai 34.2% berat kering, 24.5% hemiselulosa dan kandungan lignin hingga 23.4%.
Skema Bioproses Produksi Bioetanol di dalam Bioreaktor

Trace Compounds of Biogas from Different Biogas Production Plants

RINGKASAN JURNAL
oleh : S. Rasi, A. Veijanen, J. Rintala
Jurusan Biologi dan Ilmu Lingkungan, Universitas Jyvaskyla, Finlandia

Sampel biogas diambil dari TPA kota dan limbah pabrik pengolahan lumpur mesofilik digester di JyvaSkyla, Finlandia dan dari peternakan pabrik biogas mesofilik di Laukaa, Finlandia. Di TPA dipelajari, gas dikumpulkan dari sistem sumur ekstraksi di area seluas 16 ha. Sistem dibangun pada tahun 2001 dan gas itu menyala sampai Desember 2003, karena ketika sebagian besar gas telah digunakan untuk district heating.
Ilustrasi Pembangkit Biogas

Rabu, 16 Desember 2015

Bioenergi Lokal Indonesia

Kebutuhan akan bahan bakar energi sebagai penggerak kehidupan manusia tidak dapat dihindari. Setiap hari manusia melakukan aktivitas pasti menggunakan energi, baik dari kebutuhan rumah tangga sampai industri pasti melakukan suatu usaha atau kerja. Semua kegiatan ini membutuhkan suatu energi dasar agar pekerjaan terus berlangsung sampai selesai. Kebutuhan energi selama ini yang berasal dari energi fosil sudah dipastikan akan habis dalam beberapa tahun mendatang dan Indonesia saat ini sudah terbilang ketinggalan dalam pengalihan ke energi berbasis energi baru terbarukan.

Sumber energi alternatif khususnya di Indonesia sangat banyak bisa dikonversi menjadi energi, baik energi listrik maupun energi minyak (bioetanol, biodiesel) sampai biogas. Potensi lokal setiap daerah memiliki keunggulan tersendiri, misal energi dari mikrohidro di suatu daerah yang memiliki air bergerak setiap waktu seperti air terjun atau sungai beraliran deras dapat dikonversi menjadi energi listrik, daerah laut yang memanfaatkan ombak lautnya, daerah yang memiliki panas bumi (Geothermal) sebagai pembangkit listrik, dan berbagai sumber dari biomasa baik di laut dan di daratan (termasuk hutan) dapat dikonversi menjadi bahan bakar biofuel (biogas, bioetanol, biodiesel, gas hidrogen gasifikasi). Semua bahan baku ini sudah tersedia di bumi Indonesia sangat banyak dan akan menjadi suatu keunggulan jika hal ini dapat discale-up menjadi skala besar dan diproduksi massal, maka tak heran jika suatu saat Indonesia dapat menjadi Negara lumbung Energi Alternatif terbesar di dunia. Kalau Arab Saudi selama ini menjadi negara terkaya akan minyak (fosil), maka Indonesia sejatinya adalah negara terkaya akan sumber minyak energi alternatif di masa depan.
Berikut adalah abstrak penelitian saya terkait penyediaan sumber Energi Alternatif (bioetanol) dari potensi lokal Pohon Pisang Kepok. Proses Pembuatan Bioetanol khususnya dari Pohon Pisang ini melalui beberapa tahap proses mulai dari Pretreatment, Hidrolisis (Sakarifikasi), Fermentasi dan Pemurnian (Destilasi dan / atau Dehidrasi), namun ada Proses Hidrolisis (Sakarifikasi) dan Fermentasi menjadi satu tahapan yaitu SSF (Solid State Fermentation), SHF (Separated Hydrolysis Fermentation).


Telah dilakukan pretreatment pada pohon (gedebog) pisang kepok terhadap kandungan selulosa menggunakan bantuan gelombang mikro (microwave) dan pelarut NaOH 0,5 M. Selulosa ini sangat penting dalam proses hidrolisis dan fermentasi untuk biokonversi menjadi bioetanol sebagai sumber karbon (gula). Riset ini membahas potensi penggunaan gelombang microwave dalam proses pretreatment batang pisang yang didapat dari desa Sumberjo Jombang. Metode pretreatment menggunakan microwave-NaOH dinilai lebih baik, karena selain interaksi yang terjadi antara gelombang micro dengan bahan pada saat pretreatment akan menghasilkan efek panas (heating), penambahan NaOH juga membantu dalam reaksi pemecahan lignoselulosa bahan. Rancangan percobaan menggunakan Rangkaian Acak Kelompok (RAK) yang tersusun atas 2 faktor yaitu volume pelarut NaOH dan lama waktu pretreatment . Ukuran serbuk batang pisang yang digunakan yaitu 100 mesh bermassa 40 gram dan besar daya microwave yaitu 950 watt. Adapun hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan terbaik didapatkan pada perlakuan 500 mL dan lama waktu 40 menit, yaitu menghasilkan selulosa sebesar 27,265%, hemiselulosa 17,86% dan lignin 3,26%. Uji SEM menunjukkan kenampakkan sel telah rusak setelah dikenai paparan gelombang mikro (microwave). 


Kamis, 28 Agustus 2014

Dosen TEP Wakili Indonesia pada Kongres Ahli Control Dunia 2014 di Afrika Selatan

Dosen Jurusan Keteknikan Pertanian (TEP) Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya (FTP UB), Yusuf Hendrawan, STP, M.App.Life Sc., Ph.D  menjadi satu-satunya delegasi dari Indonesia sekaligus pemakalah pada ajang Kongres Dunia The 19th World Congress of The International Federation of Automatic Control (IFAC) pada tanggal 25-29 Agustus 2014  di Cape Town International Convention Centre (CTICC), Cape Town, Afrika Selatan. IFAC World Congress merupakan forum internasional terdepan sebagai ajang ahli kontrol otomatis dari kalngan akademisi, pakar, peneliti, industri, ilmuwan maupun insinyur yang mengeksplorasi berbagai penelitian, inovasi, dan paten dalam bidang keilmuan dan teknologi kontrol otomatis.

Kamis, 17 April 2014

Fermentasi MSG dan Biokimianya

1. Proses pembuatan (produksi) MSG serta perubahan biokimia yang terjadi selama proses pembuatan MSG

Gambar 1. Metabolisme oleh sel 
(Glikolisis dan Siklus Krebs)
1.1 Proses Pembuatan
Pada pembuatan Monosodium Glutamat melalui proses fermentasi dengan menggunakan bakteri tertentu sampai terbentuk kristal-kristal bumbu penyedap. Proses pembuatan diawali dengan pengumpulan bahan dasar yang bisa berasal dari tebu, tapioka, singkong dan jagung yang diambil cairan tetesnya. Prinsipnya semua bahan dasar itu mempunyai gula sehingga bisa diproses dalam fermentasi. Fermentasi menggunakan medium nutrisi untuk memperbanyak mikroba atau bakteri. Selanjutnya setelah tumbuh, bakteri dipindahkan ke media cair yang akan dipindahkan lagi ke tangki produksi asam glutamat. Asam glutamat yang dihasilkan harus melalui proses pemisahan dan pemurnian serta kristalisasi agar menjadi MSG.

Selasa, 01 April 2014

Transesterifikasi Biodiesel


Perhitungan dan Analisis Neraca Massa Pembuatan Biodiesel Menggunakan Pelarut Alkohol (Metanol dan Etanol) dari 1 Liter Minyak Sawit
 
Pertanyaan :

Berapa Volume (dalam liter) alkohol yang digunakan untuk melarutkan 1 liter minyak sawit agar bisa menjadi produk biodiesel pada proses transesterifikasi dengan menurut sesuai kesetimbangan transesterifikasi :
            Trigliserida + 3 Alkohol )=> Gliserol + 3 Ester
Gambar 1. Kesetimbangan Rumus Kimia Transesterifikasi menggunakan Metanol

 
Sumber : Hikmah dan Zuliyana (2010).

Senin, 10 Maret 2014

Biokimia Teh vs Susu vs Madu




A. Definisi Flavonoid & Theaflavin serta manfaatnya sebagai antikanker dan antioksidan
Flavonoid telah menunjukkan manfaat kesehatan dari efek antioksidatif pada senyawa-senyawa kimia tanaman, yang sifatnya melengkapi kelompok hidroksil fenolik yang menempel pada struktur flavonoid. Menangkap radikal bebas adalah peran penting dalam aktivitas antioksidan pada senyawa flavonoid. Dalam beberapa tahun terakhir, flavonoid sebagai penangkap radikal bebas telah menarik perhatian karena memiliki sifat melawan radikal bebas.

Rabu, 05 Maret 2014

Publication About Research of AVERBI Extract (Averrhoa bilimbi linn) Part I


Ekstrak setelah disentrifugasi
In this Part, we want to publish from our activity about preparation and activity in Laboratory (part I). This activity to do project from Ministry of Higher Education (DIKTI) is called PKM (Program Kreativitas Mahasiswa) and we do this grant program part of research.

This research was conducted in the Laboratory of Genetics Biology Department of Biology, Laboratory of Organic Chemistry Department of Chemistry, State Islamic University of Maulana Malik Ibrahim Malang and at the Central Laboratory of Biological Sciences Faculty of Agricultural Technology, Brawijaya University of Malang.

Rabu, 22 Januari 2014

Mengapa Teknik Bioproses UB Di Bawah Teknologi Pertanian.?

Sobat Bioners (Sapaan akrab untuk teman-teman Teknik Bioproses), sering nih saya dengar, baca ataupun pertanyaan-pertanyaan tentang Bioproses Universitas Brawijaya. Terutama mereka yang menanyakan keberadaan Program Studi ini mengapa di bawah naungan Fakultas Teknologi Pertanian, apalagi di Jurusan Keteknikan Pertanian, mengapa tidak di Fakultas Teknik ataupun Kedokteran saja. Serta apa perbedaan Teknik Bioproses UB dan UI.

Jadi kali ini saya akan sedikit mengulas cerita dan mencoba menjawab pertanyaan tersebut. Tapi sebelum itu, silahkan nikmati video di bawah.
CEKEDOT. .