Apa yang Anda cari disini.?

Laman

Minggu, 15 Desember 2013

Sajak Untuk Mereka



Sajak Untuk Mereka

Setetes embun yang segar di pagi itu

Menyejukkan kulitku setelah sejenak kulepas beban tadi malam

Beban yang membebaniku untuk menjadi dewasa

Dewasa yang belum sejati kutemukan dewasa itu

Dan membuat lupa semua akan siapa aku

 

Waktu berlalu dan kuterus bangun di awal hari

Dua tiga kali tetap menyegarkan embun itu

Tapi

Obat yang luar biasa kini menjadi biasa

Dan embun itu mengajariku satu hal

Yah, sandaran sejati

 

Sandaran sejati dalam hidup

Bukan embun itu

Tapi Engkau, Tuhanku

 

Kasih sayang-Mu di dunia (Ar Rohman)

Dan kasih sayang-Mu di akhirat (Ar Rohim)

 

Kasih sayang-Mu di dunia

Akan ridho-ridho yang kuharapkan

Engkau turunkan sejatinya sangat dekat

Begitu dekat diantara kebutaanku atas nikmatmu

Dan mereka adalah Ibu dan Bapakku

 

Pantaslah Engkau marah kepadaku

Karena aku melupakan mereka

Mereka

Mereka yang mengecilkanku

Mengecilkan aku dari kesalahan-kesalahanku

Mereka yang memuntahkanku

Memuntahkan aku saat berbuat dosa

Mereka yang membuangku

Membuang aku dari kebiadaban akhlakku

Mereka yang menendangku

Ketika aku terlelap saat Tuhan memanggilku

 

Untuk kalian

Kalian cinta makhluk pertamaku di dunia

Tapi aku yang pertama melarakan hati kalian

 

Untuk Ibu

Bibir ini tak akan bisa merasakan pedas

Jika saat itu kau tak melumatkan cabai untukku

Makanan yang kurasa tak ada artinya

Tapi saat kurasa, adalah segalanya

Dan kini

Pedas yang sejati mulai terasa di bibir hati, ibu

Tak ada yang bisa menolong

Kecuali engkau yang selalu mendo’akan aku, anakmu, walau jauh

 

Untuk Bapak

Berkuintal-kuintal kau angkat

Kau angkat buah dan padi itu dari yang menyuruhmu

Dari meter ke meter

Dari hari ke hari

Tanpa roda tanpa sepeda dan tanpa lelah

Hanya “rengkek”, kaki, dan punggungmu yang kuat mengangkat semua itu

Tapi

Sejatinya itu tak seharusnya kau lakukan

Jika bukan untuk kami

Untuk kami, Bapak

 

Dan satu hal yang membuat air mataku menetes kala itu

Kala itu yang masih teringat kuat di otakku sampai kini

Kau lontarkan kalimat yang sejatinya itu bukan bermaksud sedikitpun untuk marah

Marah karena ulah kami

Dan itu membuatku sadar

Sadar peranmu dibalik kemarahanmu

 

Perjuangan kecilmu tak pantas jika dibandingkan dengan perjuangan anakmu ini

Anakmu yang terbilang mewah dan hanya membuat kalian susah

Tapi

Kalian selalu meneduhkan dan menyejukkan

Lebih sejuk dari pada embun pagi itu yang kukira sangat sejuk

 

Harusnya tak usah dan tak perlu kutulis sajak ini

Karena apapun yang kudapat, apapun yang ada di hidupku kini

Selamanya tak sepadan dibandingkan dengan sepersejuta dari setetes air matamu, Ibu, Bapak

Itu masih sepersejuta dari setetes

Belum setetes itu sendiri

Sedangkan sudah berapa tetes air mata yang kalian linangkan selama ini.?

 

Belum lagi tetesan keringat

Keringat yang keluar dari tubuh kalian

Betapa hina diri ini kepada kalian

 

Namun apa yang bisa aku lakukan untuk kalian

Yah, hanya membalas kebaikan kalian

Meskipun aku tahu itu tak akan pernah sepadan

Dan ajaran kalian akan kuteruskan

Sebar kebaikan,kebaikan dan kebaikan

Tapi semua hidupku akan kupertaruhkan

Jika nama dan kehormatan kalian diinjak oleh “mereka

Mereka yang menghancurkan kristal-kristal hati kalian yang begitu indah

Akan kubungkam mulut mereka yang berani menodahi hati kalian

 

Dan rasa cintaku mulai tumbuh

Meski tak pernah kuucapkan itu

Tapi kalian pasti bisa merasakan getaran cinta dari anak ini

Dari anak yang hina

Dari anak yang juga sempat menghancurkan indahnya kistal hati itu

 

Kini dengan perlahan

Biarkan aku menata kembali serpihan-serpihan itu

Walau kutahu

Kristal yang terbentuk nanti tidak akan sama persis dengan yang sebelum kuhancurkan

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah meninggalkan lapak Anda disini.